Amazing Animators are Flipping Brilliant!

Belum lama ini, beredar berita ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya, karena sulit  mengajarkan sang anak saat melaksanakan pembelajaran online. Sang ibu mengaku menyesal, karena tindakannya berakibat pada hilangnya nyawa sang anak. Saat anaknya tidak sadarkan diri, ia mulai  panik dan berencana membawa anaknya ke rumah sakit. Namun, di tengah perjalanan kedua orang  tua tersebut menyadari bahwa anaknya sudah meninggal. Maka dari itu, mereka mengubah  rencananya dengan langsung menguburkan anak karena takut diketahui oleh orang lain. 

Fenomena di atas membuat kami, Sekolah Kak Seto merasa prihatin. Keluarga dan bahkan, orang  tua yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan dapat melindungi anak-anaknya, berubah  menjadi tempat paling menakutkan hingga mampu menghilangkan nyawa anaknya. Kekerasan  terhadap anak bukan baru terjadi saat ini saja, sudah terjadi sejak lama dan belum juga berhenti  sampai saat ini. Hal ini, membuat Sekolah Kak Seto berupaya menjabarkan alasan/penyebab apa saja  yang melandaskan peristiwa tersebut masih kerap terjadi. Harapannya agar dapat mengedukasi orang  tua dan meminimalisir terulangnya kejadian serupa di atas. Berikut beberapa penyebab mengapa  orang tua melakukan kekerasan terhadap anak: 

Korban Kekerasan 

Banyak ditemui bahwa, pelaku kekerasan memiliki pengalaman traumatis yang berkaitan  dengan kekerasan di masa lalunya. Pengalaman traumatis ini belum terselesaikan dan secara  tidak sadar, mereka melakukan hal yang sama seperti yang ia terima di masa lalu. Pengalaman  ini tidak hanya berkaitan dengan orang tua, tetapi juga bisa didapatkan dari pergaulan  sosialnya. Seorang korban bullying dari teman sebaya bisa menjadi pemicu seseorang menjadi  pelaku kekerasan, jika ia tidak mendapat arahan yang tepat dan tempat untuk menyalurkan  emosinya. 

Tidak Memahami Perkembangan dan Pertumbuhan Anak 

Kak Seto pernah mengingatkan bahwa, anak bukanlah orang dewasa mini. Mereka masih  dalam masa tumbuh dan berkembang. Pertubuhan mengacu pada aspek psikologis, dimana anak masih belajar bagaimana berperilaku yang baik dan harus diajarkan dengan metode  tauladan. Ingat selalu, anak adalah peniru terbaik, sehingga contohkanlah perilaku yang baik  kepada anak. Anak juga masih dalam masa pertumbuhan, artinya aspek sensorik motorik 

masih belum sempurna. Tubuh mereka masih memerlukan pembiasaan agar bisa bergerak  lebih baik, misalkan belajar menulis. 

Kecerdasan itu Majemuk 

Orang tua perlu memahami bahwa, kecerdasan itu tidak melulu mengacu kecerdasan  akademik, tetapi ada juga kecerdasan lainnya. Kecerdasan itu sifatnya majemuk, sebagai  contoh ada yang disebut dengan kecerdasan motorik, kecerdasan musik, kecerdasan  interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spasial, kecerdasan bahasa, kecerdasan  eksistensi, kecerdasan emosi, dan lain sebagainya. Orang tua hendaknya memahami bahwa, setiap anak itu unik dan memiliki jenis kecerdasan yang berbeda-beda. Karena itu, orang tua  diharapkan tidak memaksakan anak untuk mampu berprestasi pada hal tertentu/yang orang  tuanya sukai saja. Hendaknya, orang tua menemukan potensi atau kecerdasan pada masing-masing anak dan membantu mengembangkannya.

Pola asuh yang Kurang Tepat 

Pola asuh orang tua yang cenderung memanjakan dan selalu menuruti anak bisa membuat  anak menjadi egois dan memaksakan keinginannya terpenuhi. Ketika dewasa mereka bisa  berkembang menjadi seseorang yang agresif dan suka memaksakan kehendak. Tidak menutup  kemungkinan, mereka dapat menggunakan kekerasan agar keinginannya terpenuhi. Pola asuh  yang terlalu keras atau otoriter juga bisa membentuk seseorang menjadi individu yang penuh kekerasan. Orang tua diharapkan dapat belajar bagaimana menerapkan kedisiplinan dan kasih  sayang dalam keluarga dengan porsi yang seimbang. Dengan begitu, orang tua tahu kapan  bersikap tegas dan kapan harus berikap lemah lembut. 

Stres Tekanan hidup 

Tekanan kebutuhan hidup juga bisa memicu seseorang menjadi stres dan melampiaskan  kekecewaan/tekanan tersebut pada anak. Anak sering dijadikan objek kekerasan, karena  mereka masih lemah dan tidak bisa melakukan perlawanan. Para orang tua hendaknya  mampu mengendalikan emosinya dan memahami bagaimana cara untuk mereduksi emosi  tersebut. Cara-cara yang bisa dilakukan adalah dengan rekreasi, kegiatan spiritual, meditasi,  diam sejenak, pergi menjauh untuk menenangkan diri, dan lain sebagainya. 

Sekolah Kak Seto selalu mengutamakan dan menghimbau kepada seluruh tutor maupun  karyawan untuk bisa selalu memahami perkembangan dan pertumbuhan anak. Hal ini diupayakan  agar tutor maupun karyawan dapat berkomunikasi dan melakukan pendekatan kepada anak dengan  mengedepankan kasih sayang. Kasih sayang adalah kebutuhan dasar dari seorang anak agar ia merasa  disayangi, sehingga ia tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang turut memberikan kasih sayang  kepada lingkungannya. Mari kita sayangi anak-anak kita dengan sepenuh hati untuk Indonesia yang  lebih baik.