Physical Distancing, istilah yang menjadi popular akhir-akhir ini. Sebelumnya WHO menggunakan istilah social distance atau membatasi komunikasi atau berhubungan langsung secara sosial. Social distance  ini terkesan memutus hubungan secara sosial sedangkan istilah physical distancing adalah tetap menjaga komunikasi secara sosial tetapi tetap menjaga jarak, jarak minimum adalah 1 meter.

Physical distancing berarti menjaga jarak komunikasi antar pribadi minimal 1 meter. Seperti kita ketahui Bersama bahwa salah satu cara untuk menekan penyebaran virus Corona atau Covid-19 adalah dengan membatasi interaksi. Seluruh sekolah diliburkan dan kantor banyak yang work from home atau bekerja dari rumah, seluruh aktivitas dibatasi. Kebijakan terkini dari pemerintah terkait phisycal distancing dan social distance ini adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dampak dari kebijakan ini adalah interaksi di rumah menjadi lebih intensif. Interaksi yang intensif akan mendorong frekuensi komunikasi yang lebih sering dalam berbagai situasi yang mungkin sebelumnya jarang dialami bersama oleh anggota keluarga. Ada 2 kemungkinan konsekuensi yang bisa terjadi saat interaksi menjadi lebih intensif dan frekuensi pertemuan yang meningkat, yaitu konsekuensi positif dan konsekuensi negatif. Konsekuensi positifnya adalah keakraban akan terbangun atau semakin kuat karena rumah menjadi tempat satu-satunya yang dianggap aman sehingga mau tidak mau mereka harus menetap dirumah dan berkomunikasi hanya dengan anggota keluarga di rumah. Keakraban dan kehangatan dalam rumah atau keluarga akan terbangun lagi setelah sebelumnya sibuk dengan kegiatan masing-masing, orang tua yang bekerja dan anak yang sekolah, mereka akan semakin mengenal satu sama lain. Kemungkinan yang kedua yaitu konsekuensi negatif dapat juga terjadi, masing-masing anggota keluarga akan terlibat konflik saat terjadi perselisihan atau perbedaan jika tidak bisa diselesaikan secara tepat. Konflik ini tidak membuat anggota keluarga merasa aman dari Corona tetapi justru memperburuk keadaan karena anggota keluarga menjadi stres atau cemas karena merasa tidak nyaman juga saat berada di rumah. Artikel ini akan mencoba membahas bagaimana membuat anggota dalam keluarga dapat meminimalisir konsekuensi negatif dari kebijakan work from home dan PSBB.

Sumber Masalah

Pertama-tama Kita harus menemukan sumber masalah untuk menyelesaikan atau setidaknya meminimalisir konsekuensi negatif dari kebijakan work from home ini. Bagi penulis, berikut beberapa poin yang harus diperhatikan untuk meminimalir konsekuensi negatif wfh dan PSBB yaitu :

1. Demi memutus rantai penyebaran

Setiap anggota keluarga harus menyadari bahwa kebijakan dan keputusan untuk wfh adalah untuk kebaikan mereka sendiri, jika kita tidak menyadari ini maka kita akan memendam emosi negatif dan menyalahkan pihak lainnya. Emosi negatif ini akan terbawa selama berinteraksi di rumah bahkan bisa meledak secara tiba-tiba. Misalkan seorang ibu yang tidak setuju dengan kebijakan wfh kemudian dirumah akan merasa tidak nyaman dan mudah marah karena emosi yang terpendam. Ia telah terbiasa bekerja dan intensitas interaksi dengan anak menjadi berkurang, saat ia berada di rumah ia akan menjumpai karakter anak yang mungkin selama ini jarang atau tidak pernah ia temui, jika ia dalam kondisi tidak nyaman berada di rumah kemudian menjumpai karakter anak yang kebetulan tidak sesuai dengan dirinya maka akan mudah marah kepada anaknya dan menjadikan anaknya sebagai pelampiasan dari emosinya yang terpendam.

2. Tetap Tenang (Keep Calm)

Dalam situasi darurat maka kemampuan yang harus kita jaga adalah tetap tenang (Keep Calm). Dengan berusaha untuk tetap tenang maka kita tetap bisa berfikir jernih sehingga pemecahan masalah dapat lebih efektif. Terutama sebagai orang tua yang menjadi role model dalam sebuah keluarga, jika orang tua panik dan cemas maka anak juga akan belajar untuk berperilaku panik dan cemas. Wajar jika kita stres dan cemas saat menghadapi Corona ini tetapi stres dan cemas itu seharusnya sewajarnya dan tidak berlebihan. Dinilai berlebihan jika perilaku tersebut tidak sesuai dengan arahan kebijakan pemerintah atau pihak terkait (misalkan ahli kesehatan) dan justru merugikan pihak lain. Misalkan karena takut berlebihan akan kelaparan maka seseorang akan menimbun makanan di rumahnya. Bagaimana untuk menjadi tetap tenang dalam situasi darurat Corona ini? Anda bisa membaca lebih detail di artikel kami yang lain yaitu LAWAN CORONA !. (klik disini)

3. Komunikasi efektif (Orang tua kepada anak)

Orang tua harus menyadari bahwa terjadi perubahan yang drastis dalam aktivitas anak. Mereka berhenti sekolah sementara waktu, tidak bisa mengaji ke masjid/mushola, dan tidak bisa bermain bersama teman-temannya. Padahal aktivitas tersebut adalah salah satu sumber kebahagiaan bagi anak karena dalam masa perkembangannya mereka sedang dalam fase butuh untuk diterima dan beradaptasi dengan teman sebaya. Selain itu anak masih belum paham dengan situasi yang terjadi sehingga terkadang bingung dengan perubahan tersebut. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi situasi yang tidak wajar, ada beberapa anak yang menjadi stres dan cemas dalam menghadapi perubahan aktivitas ini. Stres dan cemas ini ditunjukkan dari berbagai macam perilaku tergantung tingkat usia.

untuk anak usia balita lebih banyak kecemasannya adalah berpisah dengan orang yang disayangi, perilaku negatif yang biasanya biasanya muncul adalah tidak mau berpisah dengan orang tua, menghisap jempol, mengompol, takut bertemu orang, mudah menangis, mimpi buruk, dll.

Anak Usia SD sudah mampu berkhayal, mereka sudah mampu memahami makna dari kejadian buruk yang terjadi, mereka bisa menjadi cemas jika merasa tidak mampu melindungi dirinya dan serta menyalahkan diri sendiri. Perilaku negatif yang muncul biasanya sulit konsentrasi, gelisah, kesulitan belajar, regresi, psikosomatis, dll.

Usia remaja adalah usia dimana mereka sedang dalam perubahan hormon yang signifikan sehingga emosi mereka belum stabil. Pada usia remaja juga mereka menganggap teman sebaya sebagai hal yang paling penting sehingga perpisahan dengan komunitas ini dapat mengganggu perkembangan mereka. Perilaku negatif yang bisa muncul adalah penggunaan narkoba, perilaku agresif, menarik diri, merusak diri, psikosomatis, dll.

Orang tua memiliki peranan yang paling penting untuk meminimalisir atau membantu anak untuk bangkit. Hal yang paling utama adalah komunikasi yang efektif. Berikut komunikasi yang efektif di masa Corona ini :

  • Berikan pengertian kepada anak mengenai apa itu Corona, bagaimana menghadapinya, dan mengapa kita harus menjaga jarak. Memberikan pengertian ini tentu disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Misalkan anak balita yang belum mengerti tulisan maka bisa disampaikan dengan gambar atau cerita. Untuk anak SD lebih efektif juga melalui gambar, cerita, atau film sehingga mereka lebih tertarik. Untuk anak SMP dan SMA bisa melalui diskusi.
  • Dengarkan anak. Kita harus lebih banyak mendengarkan apa yang anak pikirkan dan rasakan serta tidak membantah secara kasar jika ada yang tidak sesuai. Jika memang apa yang mereka sampaikan adalah hal negatif maka orang tua hendaknya tidak langsung memotong apa yang anak sampaikan tetapi mendengarkan dengan tenang hingga anak selesai mengungkapkan perasaannya setelah mereka puas baru diberikan pengertian dengan tenang dan tetap menghargai anak.
  • Bertanya kepada anak mengenai perasaannya menghadapi Corona, apakah ada yang membuat mereka cemas? Hal ini juga dilakukan disesuaikan dengan tingkat perkembangannya. Contohnya, anak yang belum memiliki kemampuan kosakata yang banyak maka bisa dengan menggambar sedangkan mereka yang sudah memiliki kosakata maka bisa dilakukan dengan konseling.
  • Buat aktivitas bermain di rumah. Bermain merupakan dunia anak, mereka akan belajar dan melampiaskan emosi negatif dari aktivitas bermain ini. Orang tua harus merencanakan kegiatan yang variatif di rumah agar anak tidak merasa bosan dan memiliki aktivitas untuk mengekspresikan perasaannya.
  • Bagi remaja adalah menjaga komunikasi dengan teman sebaya namun tetap memperhatikan physical distancing. Misalkan tetap berkomunikasi menggunakan video conferences. Teman sebaya merupakan hal yang penting dari periode ini sehingga tetap menjaga komunikasi yang sewajarnya harusnya tetap dilakukan agar mereka bisa merasa nyaman mengungkapkan perasaan dan emosinya kepada teman sebayanya. Pada periode ini biasanya remaja lebih nyaman mengungkapkan emosinya kepada teman sebaya dibandingkan kepada orang tua.

4. Katarsis

Katarsis adalah proses pelepasan emosi untuk mengurangi stres. Temukan kegiatan Katarsis yang sesuai dengan diri anda dan anggota keluarga lainnya. Setiap orang memiliki katarsis yang berbeda-beda, misalkan bisa melalui kegiatan spiritual yaitu doa, olah raga, melukis, dan lainnya. Ajak anggota keluarga untuk menemukan aktivitas yang tergolong katarsis bagi diri mereka masing-masing.

Sekolah Kak Seto

Sekolah Kak Seto terdiri dari dua lemabaga, yaitu “HOMESCHOOLING KAK SETO” dan "KAK SETO SCHOOL". “HOMESCHOOLING KAK SETO” Merupakan lembaga Pendidikan Non Formal yang secara langsung berada dalam bimbingan dan pengawasan dari Kak Seto. “HOMESCHOOLING KAK SETO” atau biasa disebut HSKS hadir sebagai jawaban akan kebutuhan anak untuk memaksimalkan potensinya. Beberapa anak tidak optimal untuk mengembangkan potensi yang dimiliki jika mengikuti sistem Pendidikan formal yang harus (mengharuskan) masuk setiap hari. HSKS memberikan kemudahan dan fleksibilitas dalam hal waktu agar anak bisa memiliki waktu luang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. HSKS telah berpengalaman untuk mengadakan pembelajaran dirumah karena semenjak tahun 2007 telah menjalankan program ini. Kami telah memiliki desain pembelajaran yang tidak terlalu padat dan bisa dijalankan secara jarak jauh namun tetap menjaga kualitas pengetahuan dengan mengikuti standar kurikulum yang ditetapkan pemerintah.

Lembaga Pendidikan Kak Seto berikutnya adalah Kak Seto School atau bisa disingkat KSS. KSS merupakan lembaga Pendidikan yang hadir sebagai jawaban perkembangan era digital yang pesat. KSS menekankan proses pembelajaran yang bersinergi dengan teknologi. Anak akan belajar memanfaatkan perkembangan teknologi secara positif, baik dari segi waktu maupun kegunaan atau fungsi. KSS memanfaatkan teknologi agar anak belajar sesuai dengan jamannya. Orang tua juga bisa mengontrol penggunaan gadeget sesuai waktu dan kebutuhan.

Demikain artikel ini disusun oleh tim Network Marketing “HOMESCHOOLING KAK SETO” dan "KAK SETO SCHOOL" sebagai wujud kepedulian kepada bangsa dan negara dalam menghadapai pandemic Corona.